Tuesday, September 27, 2005
S ejarah dan peradaban manusia paling besar adalah peperangan. Jaman purbakala atau bisa kita dengar dengan prasejarah, jaman tradisional, sampai dengan saat ini jaman modern. Semua itu hanya menyisakan cerita yang namanya perang. Perang hanya menyisakan kesedihan, tangis, bahkan sampai nyawa melayang sia-sia. Serta menimbulkan rasa pedih, sakit hati, tak manusiawi sampai dendam.
Korban dari perang adalah orang-orang tidak berdosa seperti anak-anak dan perempuan. Maka perang adalah kejahatan kemanusiaan dan kedamaian adalah impian manusia.
"We Need Peace Not War"
Posted at 01:14 pm by ahmadaja
Permalink
Monday, September 26, 2005
Bahasa merupakan alat komunikasi yang efektif digunakan manusia untuk interaksinya. Manusia tidak bisa lepas dengan manusia lain sebab memang manusia tidak bisa hidup sendiri. Kebutuhan manusia kontak atau mulai berinteraksi mempunyai cara penyampaian yang beragam dengan maksud agar yang disampaikan dimengerti oleh lawan bicara. Bahasa merupakan hasil karya manusia dari awal peradaban manusia pertama. Bahasa juga merupakan identitas suatu daerah sekalipun negara yang di tinggali manusia itu sendiri, sehingga terkadang bahasa juga merupakan satu kesatuan jiwa dengan manusia. Hal ini merupakan keajaiban yang indah dari Tuhan agar manusia tetap dalam peradabannya. Bicara mengenai bahasa saya tulis artikel ini untuk mamahami sedikit dari bahasa malangan yaitu bahasa yang biasa disebut “Basa Wali’an”. Aneh memang bahasa yang digunakan ini sebab bahasa ini mempunyai ciri yang unik di Indonesia bahkan di dunia. Dengan menggunakan bahasa ini juga, merupakan alat komunikasi yang efektif pula untuk interaksi bagi warga Malang sendiri. Dan ini pun menjadi budaya warga Malang serta identitas yang dicintai dan dipelihara mulai dari awal sampai sekarang. Basa Wali’an ini pula yang mempererat pergaulan warga Malang walaupun berbeda tempat atau kampung, karena mereka merupakan satu ikatan yang diikat oleh bahasa tadi (wali’an) yang memang tidak memandang banyak perbedaan mulai dari ras, agama, kaya, miskin, pejabat, non pejabat dan lain-lainnya. Kekayaan kreatifitas warga Malang ini juga membawa dampak positif lainnya yang tidak berhenti sampai di situ saja, bahasa ini juga sudah memasuki wilayah yang ‘terpandang’ seperti dimasukkan bahasa ini dikolom-kolom khusus koran daerah dengan diwarnai basa wali’an.
Awal mula Basa Wali’an
Awal mula basa wali’an ini lahir dari warga Malang dikalangan masyarakat bawah pada tahun 70’an di daerah bioskop Merdeka Malang di Kayu Tangan (sekarang depannya Telkom). Saat bioskop akan memulai penayangan Filmnya didepan bioskop terdapat banyak tukang catut (makelar) tiket diepan bioskop. Mereka saling mencari pembeli dengan banyak cara agar tiketnya diserbu calon penonton. Dari salah satu tukang catut ternyata ada yang menawarkan tiketnya dengan basa wali’an. Penawaran yang menarik perhatian ini membuat calon penonton bergairah untuk membeli tiket tersebut, sebab tukang catut itu menawarkan bersuara “Siapa beli Utas dapat Aud” ( beli satu dapat dua). Dengan sistem bahasa seperti ini ternyata tukang catut tersebut mampu menarik perhatian yang akrab dan harmonis pula. Sehingga tidak lama kemudian tukang catut lainnya mencoba cara ini dan berhasil. Ternyata dari kekreatifitasan yang sederhana ini mampu melahirkan warna baru di kota Malang. Sehingga berkembang di kampung-kampung sampai dikalangan elit pula. Kebanggaan bahasa ini juga dijadikan identitas yang tak ternilai harganya sehingga dapat dikenalkan oleh warga Malang lewat pertandingan sepak bola atau pada acara-acara tertentu. Mungkin keakraban sudah menjadi jiwa warga Malang untuk menjalin hubungan yang damai dan tenang sehingga pikiran kita akan menjadi positif dan bersih. Munculnya ide-ide baru tidak akan menjadi popular jika tidak dilakukan dengan ketenangan jiwa dan bersihnya pikiran seperti tukang catut tadi.
Jika dilihat dari usaha tukang catut itu dengan basa wali’annya yang dapat melariskan tiketnya apakah kita generasi penerus warga Malang (khususnya Kera Ngalam) tidak mampu mempertahankan atau menjaga identitas yang kaya akan hasil positifnya. Pemberdayaan basa wali’an ini sebenarnya menguntungkan kita sebagai warga Malang. Sebab Proses kreatifitas yang unik, positif dan menarik akan membawa kita pada dampak positif yang sangat menguntungkan. Di Indonesia yang masyarakatnya majemuk juga mempunyai bahasa yang banyak pula. Sehingga alat komunikasi sudah menjadi bagian hidup manusia, bahasa tidak akan mati jika peradaban manusia belum musnah di dunia ini. Maka kita sebagai warga Malang mulai dari asli Malang atau warga di luar Malang tidakkah kita mampu menjalin tali persaudaraan tanpa memandang perbedaan dengan berkomunikasi basa walia’an tersebut
Posted at 10:25 am by ahmadaja
Permalink
Monday, September 05, 2005
Innalillahi Wa Innalillahi Rojiuun

Turut berduka cita atas kecelakaan pesawat Mandala Airlines jurusan Medan-Jakarta. Semoga arwah penumpang diterima disisiNya. Dan segenap keluarga yang ditinggalkan diberikan ketabahan dalam menghadapi musibah ini. Amin
Posted at 10:03 am by ahmadaja
Permalink